Tentang Sebuah Kain


Cadar tentu bukanlah sebuah tanda kalau orang yang memakainya sudah menjadi perempuan yang sempurna, sholehah, tidak. Tidak selalu bisa dikatakan seperti itu. Tetapi, tidak bisa dikatakan juga yang memakai cadar semuanya tidak baik, tidak. Apalagi dikatakan teroris, oh itu salah besar. Di islam, kami tidak di perintahkan untuk saling menyakiti. Bahkan ke orang yang beda agama dengan kita saja, islam mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik.

Cadar merupakan salah satu tanda muslimah. Karena muslimah itu bagaikan mutiara. Sedangkan mutiara itu ada di dasar lautan, tentunya tidak sembarang orang yang bisa mengambil atau menyentuhnya. Harga sebuah mutiara pun mahal. Hanya orang tertentu yang bisa membelinya. Bukankah begitu? Begitu juga dengan seorang muslimah. Muslimah mahaaaal. Tidak boleh dengan murahnya memberikan segalanya kepada orang yang bukan mahram. Tidak mudah untuk di sentuh, tidak mudah untuk di gombali. Kamu mahal, wahai muslimah. Seharusnya diri kita lebih di jaga. Apalagi jangan sampai kita mudah untuk menjadi korban para php. Ada yang gombal, baper. Ada yang perhatian, baper. Jangan baper sebelum ada jabatan tangannya bersama walimu. Cukup baper setelah halal saja. Tidak ada kata 'I love you' sebelum menandatangi buku nikah.

Cadar bagiku adalah sebagai pengingat. Pengingat ketika syetan merayuku untuk bergabung bersamanya dalam perbuatan keji. Tapi, alhamdulillah selama ini memang benar-benar nyaman dengan memakai cadar. Jujur, keluargaku tidak ada yang memakai cadar, untuk pakaian syar'i saja bisa di bilang masih proses.

'Bagaimana pendapat orangtua?'
Alhamdulillah, orangtuaku mendukung. Orangtuaku mengizinkan aku bercadar, walaupun mereka selalu bilang aku lebih cantik tidak memakai cadar. Apakah itu termasuk orangtuaku belum ridho? Ah, aku melupakan sesuatu yang penting itu. Biar nanti ku tanyakan.

Banyak kejadian lucu selama aku memakai kain yang bernamakan cadar itu. Mulai dari panggilan yang terdengar mengejek sampai yang menghormati. Ada yang manggil ninja, pencuri bahkan pernah ada seorang nenek yang berpapasan dengan aku dan nenek itu bilang 'Ih meni sieun/ ih takut'. Antara sedih, malu dan lucu juga, sih sebenarnya. Candaan kaum lelaki juga tidak sama seperti ke perempuan lainnya. Mereka malah memberikan salam, atau manggil dengan 'Bu Haji'. Pernah juga aku berpapasan dengan lelaki di jalan yang lumayan sempit, dan lelaki itu benar-benar nempel ke dinding, takut kalau dia bersentuhan denganku. Itu merupakan sebuah kehormatan karena merasa lebih terjaga dan lebih di hormati. Masalah banyak yang memandang itu sudah menjadi kebiasaan. Yang terpenting jangan lupa menyipitkan mata, tanda kalau kita tersenyum kepadanya, dan sebuah tanda juga, kalau kita juga menghargai mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesan Bapak Tentang Nikah Muda

19 Tahun Sudah

Lelah Tapi Lillah Bersama Al-Qur'an